Ini cerita saya setelah melakukan pra-permohonan perpanjangan passport di sini.

Tanggal 2 Oktober 2016

Saya obrak-abrik apartemen untuk cari KK asli, tapi yang ketemu hanya salinannya saja. Seingat saya, semua dokumen penting sudah saya satukan di map dan saya taruh di tas khusus di kamar sebelah. Tapi zonk. Nggak ada. Saya coba cari di map-map lain, tetap nggak ketemu. Oke fix, drama episode 1 sudah dimulai.

Tanggal 3 Oktober 2016

Ibu saya ulang tahun, dan saya recoki dengan pertanyaan retoris tentang KK saya. Saya minta Ibu cari di Jogja, tapi of course nggak ketemu. Iya sih, saya juga yakin KK itu keberadaan terakhirnya ada di Jakarta, walaupun saat ini entah di mana. Di tengah kegalauan tak bertepi itu, saya browsing untuk cari keterangan soal pengurusan passport tanpa KK asli, tapi nggak berhasil menemukan informasi yang memadai. Saya coba telepon ke call center juga nggak berhasil – hiks, makin galau. Besok saya sudah harus ke Kanim Jaksel. Kalau KK-nya belum ketemu juga, apakah artinya saya gagal memperpanjang passport??? *zoom in zoom out*

Sampai malam, saya masih WA-an sama Mba Atha yang juga punya episode drama-nya sendiri. Jam 9 malam dia masih di luar untuk fotokopi karena dokumen-dokumennya baru ketemu. Malam itu saya tidur berselimut kegalauan.

Tanggal 4 Oktober 2016

Tibalah saatnya hari yang dinantikan! Jam 5 pagi saya sudah bangun (lho, biasanya memang bangun jam berapa?) ; selesai semua urusan domestik jam 6 dan KK asli masih entah di mana. Akhirnya, saya memutuskan untuk menulis sebuah surat bermaterai yang menyatakan bahwa KK asli saya ada di Jogja dan salinan yang saya sampaikan dalam keperluan perpanjangan passport adalah salinan yang sebenar-benarnya. Surat itu saya tulis dengan tulisan tangan yang miring-miring di kertas tebal ukuran A4 yang saya comot dari sketch book agar terlihat lebih dramatis. Bohong ding, sebenarnya karena simply nggak punya kertas A4 biasa dan printer di apartemen ­čśÇ Surat ini adalah satu-satunya harapan saya selain ekspresi memelas yang sudah saya latih di kamar mandi.

Saya baru selesai siap-siap jam 6.30, dan drama episode kesekian berlanjut karena semua celana kantor dan celana jeans saya masih di laundry. Mau diambil tapi laundry-nya baru buka jam 7, mau pakai rok tapi saya ke Kanim Jaksel-nya mau naik ojek karena malas parkir. Oke kegalauan nggak penting. Akhirnya jam 6.45, saya berhasil bertemu dengan rider Uber Motor saya untuk memulai perjalanan mencari kitab suci ke Kanim Jaksel di Warung Buncit.

Sampai Kanim Jaksel jam 7.05, telat 5 menit dari waktu janjian saya dengan Mba Atha, tapi Kanim Jaksel terlihat sepi. Drama #8378672 dimulai waktu saya kesandung di tangga menuju lobby karena pagi itu saya nggak pakai kacamata. Kenapa nggak pakai kacamata? Karena saya nggak mau ada bekas kacamata di hidung saya waktu foto passport nanti. Kenapa nggak touch up sebelum foto? Saya malas dan takut tempat duduk antrian saya diambil orang. Oke makin nggak penting. Tragedi tersandungnya saya di tangga lobby cukup bikin heboh segerombolan bapak security di gate pemeriksaan keamanan. Setelah akting sok cool, saya pun melengang masuk. Sambil menunggu Mba Atha, saya baca fanfic Monday Couple dan malah sesenggukan karena baper rindu masa-masa mereka mesra banget dulu. Eh, tiba-tiba salah satu bapak security yang tadi heboh waktu saya kesandung di tangga lobby datang dan tanya saya kenapa. Saya jawab saya terharu lagi baca novel. Si bapak manggut-manggut dan pergi ke arah gerombolannya lagi lalu ngobrol mungkin gosipin saya.

Drama Mba Atha #836848 dimulai dengan sesosok rider ojek online yang ditunggu lama tak kunjung datang dan akhirnya malah cancel. Mba Atha order ulang dan tetap nggak datang, akhirnya Mba Atha yang cancel. Balik ke rumah mau naik motor sendiri, rumah dikunci. Untung abangnya datang dan akhirnya Mba Atha berhasil campai di Kanim Jaksel dengan selamat sentosa.

Oke sekarang saatnya peperangan yang sesungguhnya. Kami naik ke lantai 2 tempat pelayanan WNI; antri untuk ambil nomor antrian sambil deg-degan. Oh iya, sekarang pengambilan sistem nomor antrian diberi waktu 2 jam, dari jam 8 sampai jam 10. Jadi berapa pun orang yang datang, asal ambil nomor antrian di jam tersebut pasti dilayani. Saya nggak lihat perbedaan jenis nomor antrian pemohon online dengan pemohon walk in. Semua nomornya urut saja; bedanya paling untuk pemohon online namanya muncul di nomor antrian dan ada tulisan nomot antrian pemohon online ­čśÇ CMIIW ya, tapi kemarin saya betulan nggak lihat perbedaan nomor antriannya. Mungkin karena sekarang bukan sistem kuota tetapi sistem pembatasan waktu nomor antrian itu, ya.

img_0611
Kebijakan Antrian Layanan Passport

Mba Atha antri duluan dan sukses mendapatkan nomor antrian 2-223 tanpa pemeriksaan dokumen asli (say whaaaat???), setelah menyerahkan Tanda Terima Pra-Permohonan langsung dikasih map kuning untuk tempat menaruh dokumen. Sempat tergoda untuk nggak mengakui kalau nggak bawa KK asli, tapi saya nggak mau ambil risiko. Akhirnya waktu giliran saya diperiksa, saya bilang ke petugas bernama Mbak Yohana bahwa saya nggak bawa KK asli tapi saya buat surat pernyataan bermaterai. Mbak Yohana mempersilakan saya ketemu dengan atasannya di ruangan belakang tempat pengambilan foto dan sidik jari untuk konsultasi (super nervous!!!). Setelah berjalan di antara kursi-kursi orang yang sedang proses pengambilan foto dan sidik jari, saya sampai di kubikel atasan Mbak Yohana, namanya Pak Fadly (ganteng :3) Waktu itu beliau sedang terima telepon, setelah menunggu sekitar 3 menit akhirnya saya bisa mencurahkan isi hati cerita ke beliau permasalahan saya.

Surat pernyataan bermaterai saya cuma dilirik sebentar, beliau tanya passport lama saya mana, salinan fotokopi saya mana, saya serahkan ke beliau, dilihat-lihat 10 detik (saya betulan hitung), kemudian slip bukti bayar saya yang warna pink dari BNI Syariah itu ditandatangani.

“Sudah.”

img_0604
Tanda Tangan Sakti Pak Fadly

Pak Fadly dengan poker face-nya yang ganteng itu hanya berucap 1 kata itu. Saya terpana. Bengong. Saya tanya, “Pak ini sudah? Saya bisa urus perpanjangan passport saya?” dan beliau mengangguk dengan anggunnya. Saya hampir melompat ke pelukan Pak Fadly menjerit penuh kebahagiaan tapi untung bisa tahan dan dengan muka cengiran penuh kebahagiaan saya kembali ke Mbak Yohana untuk mengambil nomor antrian 2-234 yaiy!!! Btw, itu memang si Bapak tanda tangannya terbalik ya:D

img_0609
Nomor antrian pemohon online

Bisa dilihat ya, saya ambil nomor antrian itu ham 8:11:01 dan sudah dapat nomor antrian segitu. Kira-kira ada berapa ratus orang yang seharinya dilayani di Kanim Jaksel ini, ya? Salut deh buat para petugasnya yang sangat berdedikasi.

Begitu dapat tempat duduk untuk menunggu giliran, saya & Mba Atha baru sadar bahwa di map kuning yang diberikan petugas nomor antrian tadi ada formulir yang harus diisi, dan data-data isiannya sama persis dengan yang kami isikan di Layanan Paspor Online. Lho, jadi kemarin isi data-data itu untuk apa, dong? Ah entahlah, saking bersyukurnya saya bisa lolos tanpa KK asli saya isi saja formulir itu dengan sepenuh hati.

img_0605
Tapi kenapa harus ada isian tentang tinggi badan, sih?

Surprisingly, antrian berjalan cepat. Sebetulnya antrian ini bisa dipantau lewat web Info Antrian Paspor ini. Saya coba akses dan betulan real time lho pantauan antriannya. Semakin salut deh sama Dirjen Imigrasi! Sekitar 2 jam menunggu, akhirnya Mba Atha dipanggil dan saya menyusul 5 menit kemudian. Untuk pemohon online, nama kita muncul di layar panggilan nomor antrian lho *penting*

Masuk ke ruangan pengambilan foto dan sidik jari, saya diarahkan ke counter 10. Per counter ada 2 petugas; 1 untuk verifikasi dan scan berkas, 1 untuk ambil foto dan wawancara. Berikut dokumen saya yang diambil oleh petugas verifikasi dan scan berkas:

  1. FC KTP
  2. FC KK
  3. FC Ijazah
  4. Surat Keterangan Kerja asli (fotokopinya dikembalikan)
  5. Passport lama
  6. Bukti Pengantar ke Bank
  7. Bukti bayar dari BNI Syariah warna pink (yang ada tanda tangan Pak Fadly itu!)
  8. Tanda Terima Pra-Permohonan

Setelah selesai, saya pindah ke petugas pengambil foto dan sidik jari. Untuk foto kacamata harus dilepas, tidak boleh mengubah posisi kursi, dan harus senderan. Boleh senyum tapi nggak boleh kelihatan gigi. Saya mau tanya boleh senyum agak monyong nggak supaya pipinya tirus tapi saya takut dilempar bawang goreng (waktu saya menunggu giliran difoto, ada ibu pedagang yang memberikan seplastik bawang goreng pesanan petugas pengambil foto dan sidik jari).

Berikut percakapan saya dengan petugas setelah mengambil foto, yang saya asumsikan sebagai proses wawancara:

Petugas (P) : Perpanjangan passport ya?

Saya (Q) : Iya, Bu.

P : Rencana mau ke mana?

Q : Keliling dunia, Bu.

P : *melotot*

Q : Ke Korea, Bu.

P : Oke, letakkan jempol kanan di sini, sekarang telunjuk.. Mbak ini nggak bisa terbaca, tangannya basah ya?

Q : *dalam hati* bukan Bu, saya sebetulnya alien makanya nggak punya sidik jari.

Akhirnya proses scanning sidik jari selesai.┬áBukti bayar dari BNI Syariah warna pink (yang ada tanda tangan Pak Fadly itu!) dan Tanda Terima Pra-Permohonan dikembalikan ke saya, untuk ambil passport yang jadi di hari Jum’at, 7 Oktober 2016.

Alhamdulillah, semuanya lancar dan dimudahkan. Tinggal deg-degan menunggu hasil jadi passport Jum’at depan. Di passport sebelumnya, saya foto belum mandi. Kemarin, saya foto tanpa touch up karena keasyikan ngobrol sama Mba Atha.

img_0668
Kacamata kembali dipakai karena takut kesandung lagi