Selama hampir 6 tahun menetap di Jakarta, baru di bulan Oktober 2016 kemarin saya menginjakkan kaki di The Darmawangsa Square. Kalau lewat sih sering, terutama kalau mau ke rumah keluarga saya di daerah Kebayoran Lama. Awalnya saya ke sini karena harus mengurus tiket Garuda yang cukup urgent padahal saat itu hari Minggu. Berdasarkan informasi dari call center, office yang buka di hari libur salah satunya ada di The Darmawangsa Square ini.

Selesai pengurusan tiket, ternyata waktunya sudah cukup mepet untuk saya pulang ke apartemen, padahal saya ada deadline artikel. Celingak celinguk, alhamdulillah ada Starbucks di lantai yang sama dengan kantor Garuda Indonesia. Kondisinya tidak terlalu ribut, dan yang penting ada kursi kosong dengan colokan!

Menghabiskan beberapa jam di Starbucks The Darmawangsa Square ternyata cukup untuk membuat saya jatuh hati, hehehe… Dan pada akhirnya, saya cukup sering kembali ke sini untuk menulis atau mengerjakan tugas lainnya. Apa sih sebenarnya yang membuat saya betah menghabiskan waktu berjam-jam di sini?

  1. Suasananya nyaman – beberapa Starbucks di tempat lain, termasuk Starbucks di apartemen saya sangat ramai sehingga sulit untuk saya berkonsentrasi. Padahal, toleransi saya terhadap keributan cukup tinggi. Di sini, meski ada musik dan banyak orang bercakap-cakap (ya iyalah, masa iya orang meditasi di Starbucks?), saya masih bisa menuangkan inspirasi dan imajinasi saya ke dalam tulisan šŸ˜€
  2. Saya bisa meninggalkan barang-barang saya di meja saat harus pergi ke toilet. Ada petugas security yang sangat ramah dan perhatian yang siap menjaga barang-barang saya, karena biasanya saya ke sini sendirian. Awalnya saya ragu dan sempat juga saya membawa semua barang saya ke toilet untuk kemudian kembali duduk lagi, tapi ternyata ada banyak orang yang dengan santai meninggalkan laptop dan tasnya di meja. Jadi saya sekarang cukup pede deh, meskipun tentu sebelum saya pergi ke toilet saya tetap titip pesan ke petugas security-nya.
  3. Pengunjungnya bertaraf internasional – dalam artian, tidak ada yang meninggalkan bekas minuman dan sampah lainnya saat sudah selesai. Jadi pengunjung lain bisa segera menggunakan kursi dan meja yang sebelumnya ditempati dengan nyaman tanpa harus menunggu dibersihkan oleh petugas. Biasanya, di Starbucks lain saya mendapatkan ucapan terima kasih atau bahkan dipandangi karena membersihkan meja saya sendiri, tapi di sini sudah seperti menjadi kebiasaan. Yah, mungkin karena kebanyakan pengunjungnya memang ekspatriat sih, ya.
  4. Yang terakhir dan yang terpenting (sekaligus mungkin alasan paling shallow hahaha), adalah karena Starbucks di The Darmawangsa Square ini dipenuhi oppa dan ahjusshi rapi dan tampan šŸ˜€ Konon memang daerah Darmawangsa sering disebut dengan Kampung Korea atau Little Korea di Indonesia. Anyway, dikelilingi para oppa dan ahjusshi (terkadang beberapa dari mereka berbaju rapi lengkap dengan jas lho, ahhhh saya lemah dengan yang begini) ini cukup membuat mood saya terangkat sehingga kualitas tulisan pun meningkat. Tapi yah, kadang kalau oppa atau ahjusshi-nya terlalu eye catching saya juga jadi kehilangan konsentrasi sih. Tapi yang jelas, menyenangkan sekali dikelilingi mereka dan mendengarkan mereka ngobrol secara live dengan bahasa dan logat yang biasanya hanya bisa saya nikmati melalui drama dan variety show.

Kalau ada yang kebetulan nongkrong di Starbucks The Darmawangsa Square dan melihat sesosok perempuan dengan laptop merah sedang menulis sambil tersenyum-senyum sendiri, kemungkinan itu saya. Don’t hesitate to say hello!